Spekulasi di Balik Larangan Jenderal Gatot Masuk Amerika

Viralmerdeka.com - Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti apa motif dibalik larangan terhadap Palnglima TNI Gatot Nurmantyo. Pihak Amerika belum memberikan keterangan secara mendetail tentang tindakannya ini, Kementrian Luar Negeri (Kemlu) hanya mendapatkan informasi bahwa penolakan ini lantaran karena masalah internal AS tanpa memberikan keterangan lebih lanjut masalah internal seperti apa.



Alhasil, banyak sekali muncul spekulasi di sejumlah kalangan menanggapi hal ini. Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana heran, bagaimana mungkin seorang pejabat resmi yang mendapat undangan dari mitranya ditolak untuk bisa datang meski visa telah didapat. Terlebih lagi pemberitahuan tidak diberikan melalui saluran resmi melainkan melalui pemberitahuan maskapai yang akan dinaiki oleh Panglima TNI.

"Tanpa klarifikasi maka akan ada spekulasi di kalangan masyarakat dan media di Indonesia atas apa yang menjadi alasan bagi penolakan," ujar dia.

Spekulasi dapat berkembang secara liar di media sosial dan tidak terbendung, sehingga ini dapat memunculkan persepsi negatif publik Indonesia terhadap AS khususnya Pemerintahan Donald Trump. Pemerintah AS bisa dianggap oleh publik di Indonesia hendak melakukan intervensi terhadap proses pemilu di Indonesia.

"Dampak terbesar adalah pada Presiden Jokowi bila hendak maju kembali. Oleh karenanya Pemerintah AS perlu segera mengklarifikasi sebelum spekulasi di media sosial menjadi tidak dapat terbendung," ujar Hikmahanto.

Wakil Ketua Komisi II Tubagus Hasanuddin menduga, ada dua faktor yang melatarbelakangi penolakan itu. Yakni faktor administrasi dan politis. "Satu, ada muatan administrasi. Kedua, ada muatan politis. Kita lihat nanti alasan mereka," kata Tubagus di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (23/10).

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah curiga ada masalah lain selain administrasi terkait penolakan AS terhadap Panglima TNI Jenderal Gatot. Dia menduga Amerika memiliki agenda tersembunyi. Apalagi jelang tahun politik 2018-2019 serta ramainya pemberitaan soal dokumen rahasia Amerika Serikat (AS) yang berisi keterlibatan TNI dalam pembantaian massal Partai Komunis Indonesia pada 1965.

"Sebab kita tahu Amerika ini kadang-kadang dia punya mau, menjelang-menjelang peristiwa politik, tahun politik dia biasa punya mau," kata Fahri.

"Lagi goyang-goyang dalam negeri, kita lagi baru kan katanya ada dokumen keterlibatan Amerika atau Amerika punya dokumen tentang peristiwa 1965 dan sebagainya itu kan memang kelakuan mereka, mereka memang enggak mungkin lepas," sambungnya.

Wakil Ketua Komisi I DPR Meutya Hafidz ikut angkat bicara. Meutya heran dengan keluarnya red notice atau pengumuman larangan dari pemerintah AS terhadap Jenderal Gatot. Sebab, pengumuman itu mendadak. Padahal, seharusnya red notice tidak bisa sembarangan dikeluarkan tanpa alasan yang jelas.

"Saya rasa ini yang menjadi pertanyaan besar masyarakat Indonesia yang perlu dijawab oleh AS. Red notice sesuatu yang serius, tidak ujug-ujug keluar tanpa alasan," tegasnya. (Mdk)

Click to comment
 
close
[Click Here(Close)]