Ini Dia Jenderal di Balik Pembantaian Rohingya

Viralmerdeka.com - Hanya satu orang yang bisa memerintahkan tentara untuk berhenti memusuhi dan memberangus orang-orang Rohingya dan membakari desa-desa mereka dialah Jenderal Senior Min Aung Hlaing, Komandan Militer Myanmar.

Jenderal nomor satu Myanmar itu tak mengakui keberadaan Rohingya di negaranya. Baginya, Rohingya hanyalah imigran ilegal. Dan demikianlah juga status Rohingya di Myanmar orang-orang buangan tanpa kewarganegaraan,  walaupun masyarakat Rohingya telah tinggal turun-temurun di negeri itu.

Di lansir dari kumparan.com “Jenderal Min Aung Hlaing adalah orang yang memberi perintah untuk membunuh Rohingya. Aung San Suu Kyi mungkin ‘monster’, tapi tak ada apa-apanya dibanding dia,” Ungkap Kyaw Win, Direktur Burma Human Rights Network.
Secara de facto, Suu Kyi memang pemimpin Myanmar. walaupun Undang-Undang Myanmar tak mengijinkan dirinya menjabat sebagai presiden karena suaminya berkewarganegaraan asing–Inggris, ia memegang sederet posisi strategis Menteri Luar Negeri, Menteri Kantor Presiden, Menteri Tenaga Listrik dan Energi, serta Menteri Pendidikan.
Suu Kyi juga menjabat sebagai Penasihat Negara Myanmar, yang sesungguhnya mengendalikan presiden negeri itu, Htin Kyaw–yang naik ke tampuk pimpinan atas restu dia dan partainya, Liga Nasional untuk Demokrasi (National League for Democracy; NLD) yang memenangi pemilu.
Namun dengan berbagai jabatannya yang “mentereng” itu, bukan berarti Suu Kyi bisa menggenggam seisi negeri, sebab parlemen dikuasai oleh militer, di bawah Komandan Militer Myanmar Jenderal Senior Min Aung Hlaing.
Kamis kemarin, (31/8), pegiat kemanusiaan mendesak komunitas internasional untuk melakukan tekanan pada sang Jenderal yang menjadi dalang di balik pembantaian Rohingya.
“Hanya dia yang dapat menghentikan pembunuhan terhadap orang-orang Rohingya, dan sejak tentaranya memulai serangan baru akhir bulan ini, ia bahkan tidak menghadapi kritik atau tekanan langsung dari komunitas internasional,” kata Mark Farmaner, Direktur Burma Campaign Inggris, seperti dilansir situs resmi lembaganya, Burma Campaign UK.
Militer Myanmarlah yang pertama kali melakukan operasi perburuan militan Rohingya sebagai respons atas penyerangan kelompok pemberontak ARSA (Arakan Rohingya Salvation Army) yang disebut pemerintah Myanmar teroris terhadap 30 pos polisi dan sebuah pangkalan militer di Rakhine, negara bagian Myanmar yang menjadi tempat tinggal Rohingya, namun dalam operasinya mereka juga membantai rakyat sipil Rohingy tanpa ampun.
Lelaki-perempuan, tua-muda, sepuh-bayi, semua jadi korban kebrutalan tentara Myanmar. Mereka ditembaki tanpa pandang bulu, menjadikan operasi perburuan pemberontak menjelma genosida pembunuhan besar-besaran secara terencana terhadap suatu bangsa atau ras.
Jumlah orang yang meninggal sulit diketahui secara pasti akibat penutupan akses media dan pengawas internasional menuju Rakhine, namun berdasarkan data berbagai sumber terpercaya yang dikumpulkan dari lapangan, Burma Campaign UK meyakini korban tewas mencapai ratusan orang, bahkan mungkin seribu lebih.
Sementara puluhan ribu rumah telah hancur bahkan rata dengan tanah. Kini, laporan-laporan baru yang masuk juga mulai menyebut munculnya aksi pemerkosaan, penyiksaan, dan berbagai pelanggaran hak asasi manusia lainnya.
Serangan militer Myanmarkali ini dinilai serupa dengan yang pernah mereka lakukan pada Oktober 2016, namun penyerangan kali ini llebih besar dan lebih terkoordinir, lebih terpadu untuk menghancurkan semua struktur masyarakat Rohingya.
Aksi militer Myanmar pada Oktober 2016 itu telah mengusik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang kemudian menyimpulkan kejahatan terhadap kemanusiaan telah berpotensi terjadi, sehingga Dewan HAM PBB membentuk Misi Pencari Fakta untuk menyelidiki apa yang sesungguhnya terjadi di Rakhine, juga Shan dan Kachin di mana militer juga menjadikan etnis sipil sebagai target. (Kmp)

Click to comment
 
close
[Click Here(Close)]